Selasa, 03 Februari 2015

makam bungkarno


                Kota Blitar merupakan sebuah kota yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 167 km sebelah selatan Surabaya. Kota Blitar terkenal sebagai tempat dimakamkannya presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno.[1]
Selain disebut sebagai Kota Patria, kota ini juga disebut sebagai Kota Peta (Pembela Tanah Air) karena di bawah kepimpinanan Suprijadi, Laskar Peta melakukan perlawanan terhadap Jepang untuk pertama kalinya pada tanggal 14 Februari 1945 yang menginspirasi timbulnya perlawanan menuju kemerdekaan di daerah lain.
Ikan koi yang populer di Jepang dapat dibudidayakan dengan baik di kota ini sehingga memberikan julukan tambahan sebagai Kota Koi.[2]

             Salah satu  tempat yang sering dikunjungi di Blitar adalah Makam Soekarno. Makam Soekarno adalah kompleks pemakaman dari presiden pertama RI Indonesia yang sekaligus proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno. Makam ini merupakan makam dengan gaya arsitektur Jawa, dimana terdapat Joglo yang menjadi ciri khas utamanya.
Makam Soekarno terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanawetan Kota Blitar. Komplek makam ini berdiri seluas 1,8 sejak Ir Soekarno wafat dan dimakamkan di sana. Pada tanggal 21 Juni 1970, kompleks makam ini untuk pertama kalinya dipugar. Dengan pemugaran itu pencitraan Makam Bung Karno sebagai ikon Kota Blitar semakin dikukuhkan. Ikon itulah yang mampu menyedot pengunjung berziarah di sana.

Dokumentasi:
a. Gambar Pintu Masuk Ke Makam Bungkarno dan kawasan  tempat parkir motor dan mobil.













 b. Gambar Gapura ketika memasuki kawasan makam.

c. Gambar rumah berbentuk Joglo sebagai tempat pemakaman.

d. Gambar Makam Bungkarno  






Keistimewaan hari jum'at



         



        Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” [HR. Muslim]
          Hari Allah menampakkan diri. Dalam sebuah riwayat disebutkan,Hari Jumat Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat.”
Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:
“Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu, bapak semua umat manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat. Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.
Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.
Di antara keutamaan dan keistimewaan hari Jum’at adalah :
1. Hari Jum’at adalah hari terbaik
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ »
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi.” (HR. Muslim nomor 854) [1]

2. Hari Jumat merupakan hari raya tiap pekan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ فِي جُمُعَةٍ مِنَ الْجُمَعِ: مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ،”إِنَّ هَذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللَّهُ لَكُمْ عِيدًا، فَاغْتَسِلُوا، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ”
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasululla Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari Jum’at, “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya hari ini adalah hari yang dijadikan oleh Allah sebagai hari raya untuk kalian. Karena itu, mandi dan bersiwaklah.” (HR. Ath-Thabrani nomor 3433) [2]
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَوْمُ عِيدٍ، فَلاَ تَجْعَلُوا يَوْمَ عِيدِكُمْ يَوْمَ صِيَامِكُمْ، إِلاَّ أَنْ تَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ.
“Sesungguhnya, hari Jumat adalah hari raya. Karena itu, janganlah kalian jadikan hari raya kalian ini sebagai hari untuk berpuasa, kecuali jika kalian berpuasa sebelum atau sesudahnya.” (HR. Ahmad nomor 8012). [3]
3. Hari Jumat merupakan “yaumul mazid” (hari tambahan) bagi penduduk surga
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jibril pernah mendatangiku, dan di tangannya ada sesuatu seperti kaca putih. Di dalam kaca itu, ada titik hitam. Aku pun bertanya, “Wahai Jibril, ini apa?” Beliau menjawab, “Ini hari Jumat.” Saya bertanya lagi, “Apa maksudnya hari Jumat?” Jibril mengatakan, “Kalian mendapatkan kebaikan di dalamnya.” Saya bertanya, “Apa yang kami peroleh di hari Jumat?” Beliau menjawab, “Hari jumat menjadi hari raya bagimu dan bagi kaummu setelahmu. Sementara, orang Yahudi dan Nasrani mengikutimu (hari raya Sabtu–Ahad).” Aku bertanya, “Apa lagi yang kami peroleh di hari Jumat?” Beliau menjawab, “Di dalamnya, ada satu kesempatan waktu; jika ada seorang hamba muslim berdoa bertepatan dengan waktu tersebut, untuk urusan dunia serta akhiratnya, dan itu menjadi jatahnya di dunia, maka pasti Allah kabulkan doanya. Jika itu bukan jatahnya maka Allah simpan untuknya dengan wujud yang lebih baik dari perkara yang dia minta, atau dia dilindungi dan dihindarkan dari keburukan yang ditakdirkan untuk menimpanya, yang nilainya lebih besar dibandingkan doanya.” Aku bertanya lagi, “Apa titik hitam ini?” Jibril menjawab, “Ini adalah kiamat, yang akan terjadi di hari Jumat. 
             
        Hari ini merupakan pemimpin hari yang lain menurut kami. Kami menyebutnya sebagai “yaumul mazid”, hari tambahan pada hari kiamat.” Aku bertanya, “Apa sebabnya?” Jibril menjawab, “Karena Rabbmu, Allah, menjadikan satu lembah dari minyak wangi putih. Apabila hari Jumat datang, Dia Dzat yang Mahasuci turun dari illiyin di atas kursi-Nya. Kemudian, kursi itu dikelilingi emas yang dihiasi dengan berbagai perhiasan. Kemudian, datanglah para nabi, dan mereka duduk di atas mimbar tersebut. Kemudian, datanglah para penghuni surga dari kamar mereka, lalu duduk di atas bukit pasir. Kemudian, Rabbmu, Allah, Dzat yang Mahasuci lagi Mahatinggi, menampakkan diri-Nya kepada mereka, dan berfirman, “Mintalah, pasti Aku beri kalian!” Maka mereka meminta ridha-Nya. Allah pun berfirman, “Ridha-Ku adalah Aku halalkan untuk kalian rumah-Ku, dan Aku jadikan kalian berkumpul di kursi-kursi-Ku. Karena itu, mintalah, pasti Aku beri!” Mereka pun meminta kepada-Nya. Kemudian Allah bersaksi kepada mereka bahwa Allah telah meridhai mereka. Akhirnya, dibukakanlah sesuatu untuk mereka, yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati seseorang. Dan itu terjadi selama kegiatan kalian di hari jumat …. sehingga tidak ada yang lebih mereka nantikan, melebihi hari Jumat, agar mereka bisa semakin sering melihat Rabb mereka dan mendapatkan tambahan kenikmatan dari-Nya.” (H.R. Ath-Thabrani nomor 2084). [4]
4. Pada hari ini terdapat satu waktu di mana doa akan terkabulkan
Pada hari Jum’at terdapat satu waktu yang mubarakah (diberkahi) yang ditunjukkan oleh hadits shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah membicarakan tentang hari Jum’at lalu beliau bersabda,

« فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّى يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ »

Pada hari  itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim shalat berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, -yang kami pahami- untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat).” (HR. Bukhari nomor 893[5] dan Muslim nomor 852) [6]
5. Orang yang berjalan untuk menunaikan shalat Jum’at akan diampuni

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِىِّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى »

Dari Salman Al-Farisi berkata, Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyaknya atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan khutbah dengan seksama ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan Jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari nomor 843). [7]
6. Langkah kaki orang yang shalat Jum’at bernilai puasa dan qiyam selama setahun
Diriwayatkan dari Aus bin Aus Ats-Tsaqafi -Radliyallah ‘Anhu, berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud nomor 345). [8]
7. Antara Jum’at yang satu dan Jum’at selanjutnya adalah pelebur dosa atas apa yang terjadi di antara keduanya, dan ditambah tiga hari. Nabi Muhammad bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّىَ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى وَفَضْلَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ »

Dari Abu Hurairah, dari Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa mandi lalu mendatangi shalat Jum’at. Kemudian shalat sesuai dengan yang ditentukan untuknya kemudian diam mendengarkan khutbah hingga selesai lalu shalat bersama imam, maka diampunkan dosanya yang terjadi antara dua Jum’at ditambah tiga hari.” (HR. Muslim nomor 857). [9]
8. Meninggal pada hari atau malam Jum’at termasuk tanda husnul khatimah

حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ سَعِيدٍ التُّجِيبِيُّ، عَنْ أَبِي قَبِيلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن عَمْرِو بن الْعَاصِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ مَاتَ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ، أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Mu’awiyah bin Sa’id At-Tujibiy mengabarkan dari Abu Qabil, dari Abdullah bin Amru bin Ash berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at maka ia diselamatkan dari fitnah kubur.” (HR. At-Tabrani nomor 1534) [10]
9. Bergegas pergi shalat Jum’at termasuk sedekah yang paling agung.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ -رضى الله عنه- أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً ، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ » .

Dari Abu Hurairah –Radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-bersabda, “Barangsiapa mandi janabah pada hari Jum’at, kemudian pergi pada jam pertama, seolah-olah ia berkurban seekor onta, barangsiapa yang pergi pada jam kedua ia seolah-olah berkurban seekor sapi, barangsiapa pergi pada jam ketiga ia seolah-olah berkurban seekor kambing bertanduk, barangsiapa pergi pada jam keempat ia seolah-olah berkurban seekor ayam, barangsiapa pergi pada jam kelima ia seolah-olah berkurban sebutir telur. Jika Imam sudah keluar –untuk berkhutbah- malaikat datang mendengarkan dzikir. (khutbah, nasehat dan dzikir).” (HR. Bukhari nomor 841) [11].
10. Keutamaan agung yang dimiliki umat Muhammad adalah ditunjukannya mereka kepada hari Jum’at ini.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ فَاخْتَلَفُوا فَهَدَانَا اللَّهُ لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنْ الْحَقِّ فَهَذَا يَوْمُهُمْ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ هَدَانَا اللَّهُ لَهُ قَالَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فَالْيَوْمَ لَنَا وَغَدًا لِلْيَهُودِ وَبَعْدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى

“Kita adalah umat terakhir yang paling awal pada hari kiamat. Kita adalah orang yang pertama kali masuk surga. Hanya saja, mereka diberi al Kitab sebelum kita, sedangkan kita diberi sesudah mereka. Tapi mereka berselisih pendapat (tentang suatu hari). Lalu Allah menunjukkan kebenaran kepada kita mengenai apa yang mereka perselisihkan tersebut. Inilah hari yang mereka perselisihkan itu, dan Allah menunjukkan hari tersebut kepada kita –beliau menyebutkan hari Jum’at-, maka hari ini (Jum’at) adalah hari kita, besok (Sabtu) harinya orang-orang Yahudi, dan lusa (Ahad) adalah harinya orang-orang Nashrani.” (HR. Muslim nomor 855) [12]
Hadits di atas dikuatkan dengan hadits Hudzaifah –Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

« أَضَلَّ اللَّهُ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا فَكَانَ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ الأَحَدِ فَجَاءَ اللَّهُ بِنَا فَهَدَانَا اللَّهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَالأَحَدَ وَكَذَلِكَ هُمْ تَبَعٌ لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَحْنُ الآخِرُونَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَالأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِىُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلاَئِقِ ».

“Allah telah menyesatkan umat sebelum kita perihal hari Jum’at. Umat Yahudi memiliki hari Sabtu dan umat Nashrani memiliki hari Ahad. Lalu Allah mendatangkan kita, lalu Dia memberikan petunjuk kepada kita tentang hari Jum’at. Dan menjadikan (secara berurutan); hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. Mereka kelak juga mengikuti kita pada hari kiamat. Kita adalah umat terakhir dari penduduk dunia, tetapi orang pertama yang diadili sebelum semua makhluk.” (HR. Muslim nomor 856)[13].

Demikianlah keutamaan-keutamaan hari Jum’at yang tersebut dalam hadits Nabi sebagai motifasi bagi kita agar senantiasa menghormati, mengistimewakan, dan mengagungkan hari mulia ini dengan berbagai amal kebajikan. Mudah-mudahan Allah selalu menunjuki kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

Kamis, 29 Januari 2015

Perbedaan itu Indah

                  






                Pernahkah kalian mengamati taman bunga atau hutan belantara? Atau terumbu karang dengan sekian banyak jenis ikan laut berwarna-warni berenang di antara berbagai jenis koral, kerang, dan binatang-binatang kecil yang hidup di sana? Indah bukan? Bayangkan situasi sebaliknya bahwa di dunia ini hanya ada satu jenis bunga, satu jenis ikan, atau satu jenis pohon. Betapa membosankannya segala sesuatu di sekeliling kita. Kita tahu segala sesuatu di alam semesta ini ada sebagai ciptaan-Nya. Tuhan yang Maha Besar jugalah yang menciptakan manusia.
                   Manusia adalah spesies mahluk hidup yang bisa dikatakan memiliki derajat tertinggi di antara mahluk hidup lainnya. Satu-satunya mahluk hidup yang tidak hanya punya kecerdasan atau akal tapi juga punya hati nurani. Kita tahu binatang-binatang bahkan tumbuhan sekalipun memiliki kecerdasan, tapi manusialah satu-satunya yang dianugerahi dengan akal budi.

                   Akal budi yang kita miliki ini jugalah yang memungkinkan adik memunculkan pertanyaan hebat ini: “Mengapa manusia berbeda-beda?” Pertanyaan ini memang sangat penting. Lalu apa yang membedakan manusia satu dengan lainnya? Yang paling mudah dilihat adalah perbedaan yang tampak dari luar – secara fisik. Perbedaan warna kulit, tinggi atau pendek, gemuk atau kurus, berambut ikal atau lurus. Tapi banyak juga perbedaan antarmanusia yang tidak terlihat. Kita semua punya minat, bakat, dan sifat yang berbeda-beda juga.
                   Mengapa manusia berbeda-beda? Mengapa manusia tidak sama satu dengan yang lainnya? Kalau kita pikirkan, kenapa ada manusia yang pandai matematika, ada yang kuat secara fisik, ada yang suka menari atau pandai menyanyi. Ada orang yang cara berpikirnya sangat logis dan terstruktur, tapi ada juga yang sangat kreatif dan imajinatif. Ada orang yang punya kelebihan menyembuhkan orang lain, ada juga yang hidupnya diisi dengan berdoa dan memimpin ibadah. Begitu luar biasanya perbedaan antarmanusia.
Jadi apakah manusia diciptakan berbeda untuk saling menguasai atau mengungguli yang lain? Semestinya tidak, ya. Manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling melengkapi dan dapat saling mengisi. Kita semua sebagai umat beragama yang percaya akan Tuhan, tentunya meyakini bahwa semua ciptaan-Nya pada dasarnya adalah baik. Manusia diciptakan Tuhan berbeda-beda agar kehidupan seluruh umat manusia menjadi lebih baik.

Selasa, 27 Januari 2015

Cerpen bertema Kemanusiaan



"Secercah Senyuman"

Selangkah demi selangkah kan kulalui dengan sebuah senyuman. Pagi  ini aku masuk sekolah seperti biasanya, masih dengan senyuman ayah, mama, dan kakak ketika berpamitan.
“Woyyy! Temen-temen lihat nih! Aku punya video  K-pop baru lo, lihat nih ada BTS, Super Junior, EXO, masih banyak lagi deh!” kata Ita. Ita salah satu sahabatku yang gila K-Pop alias penggemar korean pop .
Apalagi yang namanya Bunga, sahbatku yang koleksi barang-barang K-Popnya waw nggak diragukan lagi.
“Bunga, itu tas apa gantungan kunci sih, kok banyak banget gantungan kuncinya, aduuhhh.... gambarnya artis-artis Korea lagi, capek deh”. Ocehku padanya.
Waktu itu ada konser di Jakarta, dari ribuan penggemarnya dia yang pertama kali mendapatkan tiket dengan harga yang lumayan mahal, bagi kantong para siswa yang sekarang ini dilanda kenaikan BBM.
“Memang si Bunga, kalau masalah K-Pop aja nomor satu, giliran pelajaran...hemmhhh, nggak tau deh!”, gumamku padanya.
 “Nuha, sini deh! Kamu tahu nggak kemarin tuh  aku kan lihat TV , aku seneng banget ehh, tenyata novel yang kubaca ditayangin di TV, haduuh,, ceritanya bagus banget so sweet bingiiitz!!”, ujar Hima pada Nuha.
Dalam hati aku berkata, “ Hidihhh,  kutu buku sih bagus tapi yang dibaca jangan cuma komik sama novel doang kelles, pelajran juga.”
Ya memang begitu sahabat-sahabatku mereka unik-unik, mereka orangnya asik nggak ngejenuhin. Walaupun terkadang suka aneh-aneh, tapi aku sayang pada mereka.
                                                                        ***


Kami semua terdiam saat salah seorang guru memasuki ruang kelas kami.
“ Assalamu’alaikum.., maaf anak-anak hari ini bu Lia akan pergi ke Depag merapatkan suatu hal, oleh karena itu Ibu beri tugas besok istirahat pertama tolong dikumpulkan di meja Ibu,  paham anak-anak?” kata bu Lia.
Dengan kompak kami menjawab “ Paham, buuuu Liiiiaaaa....!!”
 Inilah yang tidak aku suka, beliau memberi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam waktu sehari, jadi besok harus dikumpulkan dan kebetulan aku sekelompok dengan Nuha.
“Hahhh,, Untung aku seklompok dengan Nuha karena dia tidak banyak tau hal tentang K-Pop, mungkin saja jika aku sekelompok dengan Ita ataupun Bunga, pasti mereka membicarakan tentang K-Pop aja.”, aku menghela napas lega.
                                                            ***
 “Wi, gimana tugas kita, besok harus dikumpulkan ke bu Lia, padahal tugasnya buaaanyaaak banget.” , kata Nuha padaku.
“Ok, gini aja gimana kalau kita ngerjainnya itu di rumahku, kan rumahku nggak jauh dari sini, kalau rumahmu kan jauh dari sekolahan.”, kataku.
“Emmh, gimana ya??? Ya coba nanti ku tanyakan pada orang tuaku dulu, nanti kalau boleh aku telpon kamu.”, Nuha masih bingung.
Teeetttttt, teeetttt, tetttt.. belpun berbunyi, pertanda bahwa waktunya pulang. Akupun  segera pulang. Sesampainya di rumah aku langsung istirahat, sambil membuka buku tugas .
“Kriiiiiiiiing.... hallo..Assalamu’alaikum, Emhhh, kamu bisa menginap di rumahku, ok deh aku tunggu di rumah ya.”, kataku pada Nuha.
Beberapa jam kemudian Nuha datang bersama dengan ayahnya, beliau berpesan padaku, “Nak, nanti kalau ada apa-apa telpon bapak, saya langsung pulang dulu titip Nuha ya, kerjain tugasnya yang sungguh-sunguh biar cepat selesai.”
“Iya pak, terima kasih hati-hati ya pak.”, jawabku pada ayah Nuha.
                                                            ***

Setelah menyelesaikan tugas yang lumayan banyak kami terlelap dalam kehangatan derasnya hujan malam sejak sore tadi.
“Kretek...kretek Bruuuuuughhh.,,! Aaaaaa.... tidakk!!”, jeritan Nuha.
Ternyata rizki kami ditunda, musibah melanda desaku. Bingung, ketegangan, kalut, kesedihan tumpah menjadi satu. Tanah dari longsoran gunung di desaku menimbun dan menyelimuti rumah-rumah disekitarnnya. Aku tak pernah mengira kejadian ini tersurat untuk kami, hingga pagipun datang. Mata yang terpejam sejenak, kini terbuka kembali.
“Tolong tolong tolong aku, badanku tertimbun tanah tidak bisa keluar. Ya Allah tolong hamba ya Allah,  ayah, ibu, kakak dimana kalian tolong aku”, teriakku.
Tak satu orangpun ku lihat. Tiba-tiba ada suara teriakan yang memanggil namaku.
“ Wi.. Dewi, Wi.. kamu dimana, apakah kamu mendengarku”? teriak Nuha.
“Nuha..aku disini, tolong aku..! aku tertimpa rerutuhan rumah, tolong aku..!” teriakku dengan lantang.
“Sebentar, bertahanlah aku akan segara memolongmu!”, kata Nuha.
Dia menghampiri dan menolongku, kulihat badan Nuha lecet-lecet serta luka memar pada tangannya.
“Apakah kamu baik-baik saja Wi ? kan ku coba singkirkan reruntuhan ini dari tubuhmu”.
Setelah aku berhasil keluar dari reruntuhan tersebut, kamipun bergegas mencari keluargaku.
Akibat longsor yang terjadi aku kehilangan keluargaku. Ayah dan Ibuku tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan Kakakku hilang tertimbun tanah dan belum ditemukan keberadaannya. Mengetahui itu semua aku merasa seperti sedang bermimpi karena  tidak percaya telah kehilangan orang-orang yang sangat aku sayang secepat ini. Rasanya baru kemarin aku masih bisa merasakan lezatnya masakan seorang ibu. Mendengar cerita-cerita seru dari ayah. Mendengar ocehan kakak yang super cerewet, tak kusangka butiran bening jatuh membasahi pipiku, aku hanya bisa meronta-ronta histeris saat kudengar kabar bahwa orang tua dan kakakku yang tertimpa reruntuhan bangunan serta tanah diperkirakan tak bernyawa lagi, saat itu kulihat Nuha berusaha menenangkanku. Nuha memintaku untuk tinggal bersama keluarganya untuk sementara, karena kota tempat tinggalnya cukup jauh dari rumahku yang terkena bencana alam, jadi akan lebih aman.
Sorenya, aku kembali menangis ketika mengingat kejadian yang aku alami hari ini.
“Aku tak percaya ini semua terjadi padaku, tapi apa daya aku harus menerima takdir dari Allah”, kataku sambil terisak.
Aku termenung membayangkan bagaimana aku tertawa bersama dengan keluargaku dulu. Aku tegarkan hatiku dan kucoba menguatkan hatiku untuk tidak menyerah.
“Tidak! Aku tidak boleh terus begini! Aku percaya Allah tidak akan menguji manusia lebih dari batas kemampuannya dan ini semua adalah yang terbaik untukku.”, tegasku dalam hati.
Aku hapus air mata yang membasahi pipiku. Aku segera keluar dari kamar baruku itu dan menuju ketempat makan keluarga Nuha.Sungguh aku rindu ketika aku makan dimeja makan bersama keluargaku. Lamunanku terbuyahkan oleh suara lembut yang tiba-tiba memanggilku.
“Dewi, bagaimana keadaanmu sekarang?”,tanya ibu Nuha dengan suaranya yang lembut.
“Alhamdulillah, sekarang sudah mendingan”, kataku dengan senyuman yang agak kupaksa.
“Makanlah yang banyak agar kau cepat sembuh, jangan kau bersedih Tante yakin ayah dan ibumu akan sedih juga jika melihatmu seperti ini. Dan kamu boleh memanggil Tante dengan Ibu, karena kami sudah menggap kamu sebagai keluarga kami juga.”, kata ibu Nuha.
“Iya Dewi kamu juga boleh panggil Om sebagai Ayah..”, tambah ayah Nuha.
“Terimakasih Om, Tante atas bantuan..”, belum selesai ku berucap.
“Sudah Om bilang panggil saja Ayah...”, ayah Nuha menyela.
“Ehm.. iya A..a..ayah, I..i..ibu terimakasih atas semua bantuan yang telah Aaayah dan Iiibu berikan kepada saya.”, kataku dengan senyuman bahagia karena telah mendapatkan keluarga baru yang benar-benar baik.
Setelah makan tak terasa matahari sudah berganti dengan bulan, aku kembali ke kamar dengan masih memikirkan hal yang telah menimpaku hari ini, kupandangi langit yang gelap, tak ada satu bintang pun saat itu. Kudengar suara derap kaki menghampiriku dan terdengar suara ketukan pintu.
Tok,tok,tok.... “Wi, bolehkah aku masuk?”, terdengar suara Nuha.
“Ya masuklah..”, jawabku.
“Ehm.. besok aku akan ke desamu lagi untuk bantu-bantu di sana dan memberikan sumbangan, apakah kamu mau ikut denganku?”, ajak Nuha.
“Iya aku mau ikut”, kataku sambil menganggukan kepala.
“Oke, sekarang kamu istirahat ya biar cepat sembuh.. jangan memikirkan kejadian itu lagi, doakan saja orangtuamu agar mereka dapat tempat yang baik disisi Allah SWT.”, nasehatnya kepadaku.
“Iya terimaksih Nuha, keluargamu dan kamu sudah sangat baik padaku ka selalu memberi semangat padaku.”, jawabku.
“Sudahlah kudengar dari tadi kau berterimakasih terus padaku dan keluargaku, apakau tidak capek? Hehehe....”, kata Nuha.
“Hehehe.. kau bisa saja, baiklah kau akan terus di sini atau membiarkanku beristirahat?”, membalas ejekannya.
“Okelah silahkan istirahat Dewi,..”, jawabku.
                                                            ***
 Bulan pergi dan Matahari sudah kembali ketempatnya. Aku sudah ada di tempat pengungsian korban bencana alam. Aku mendengar ada yang memanggilku dan Nuha.
“Dewi... Nuha...”
Nuha dan Aku menengok ke sebuah tenda bersama, kulihat ternyata Ita dan Bunga.
“Apa yang akan kalian lakukan di sini?”, tanya Nuha kepada Ita dan Bunga.
“Kami mau mendonorkan darah,  Hima juga ada di sini”, jawab Ita.
“Iya dia ada di tenda pengungsian, dia menghibur anak-anak katanya dia kasihan kepada mereka. Oyya Wi, bagaimana keadaanmu sekarang apakah ada yang serius lukanya dan kami juga turut berduka ya? ”, tanya Bunga kepadaku.
“Aku baik-baik saja dan itu memang sudah takdir Allah, lagian Nuha dan keluarganya juga merawatku sangat baik, iyakan Nuha?”, jawabku dengan meringis sambil mencolek Nuha.
“Iya tentu... Gue gitu loh...”, jawab Nuha.
Kami tertawa bersama, entah mengapa jika aku berkumpul dengan mereka kesedihanku bisa hilang begitu saja. Tiba giliran Bunga dan Ita donor darah.
“Wah udah giliran kita nih, ayo masuk!”, ajak Bunga.
“Iya udah kami masuk dulu ya, nanti kita kumpul di tenda pengungsian ya bantu Hima”, ujar Ita.
“Siiph,”, jawabku dan Nuha serentak.
Aku dan Nuha pergi ketempat penyumbangan setelah itu kami pergi ke tenda pengungsian untuk membantu Hima.
            “Hima...” , panggil Nuha.
            “Oya kemarilah..” jawab Hima.
            “Gimana keadaanmu Wi, aku turut berduka ya?”, tanya Hima sambil memelukku.
            “Alhamdulillah aku baik-baik saja dan itu memang sudah takdir Allah, wah ternyata di sini banyak sekali anak kecil ya?”, jawabku sambil melihat anak-anak di sekelilingku.
            “Iya, orang tua mereka juga sudah tiada aku kasihan pada mereka karena mereka masih kecil-kecil maka dari itu aku ke sini untuk menghibur mereka.Kau jangan bersedih karena lihat mereka, mereka saja bisa tertawa bahagia meskipun orang tua mereka sudah tiada”, kata Hima
“Iya Wi, sekarangkan juga ada kami yang menemanimu.”, tiba-tiba Bunga dan Ita muncul.
            “Iya kalian benar, Alhamdulillah Allah masih menyayangiku, buktinya teman-temanku selalu ada untukku”, jawabku dengan senyum bahagia. 
Aku melihat mereka satu persatu, mereka membuatku lebih bersyukur pada Allah atas segala nikmatNya, pelajaran yang kudapatkan, aku harus lebih peduli terhadap sesama tanpa memilih mana yang lebih cocok denganku. Terima kasih ya Allah telah membuatku tersenyum kembali.